Poker Antik - Badan Aksesibilitas Telekomunikasi dan Informasi atau BAKTI, Kementerian Komunikasi dan Informatika, mengungkapkan proyek satelit multifungsi SATRIA-1 kini sudah memasuki tahapan konstruksi.
"Sudah mencapai pemenuhan pembiayaan pada 31 Maret 2021, saat ini dalam proses konstruksi," ungkap Direktur Infrastruktur BAKTI, Bambang Nugroho dalam sebuah acara virtual, dikutip pada Selasa 22 Juni 2021.
Pembangunan SATRIA-1 menggunakan skema Kerjasama Pemerintah dengan Badan Usaha (KPBU), dengan konsorsium Pasifik Satelit Nusantara sebagai pemenang tender.
Konstruksi satelit multifungsi tersebut dibangun setelah menandatangani Preliminary Working Agreement atau Perjanjian Pendahuluan antara badan usaha pelaksana, PT Satelit Nusantara Tiga, bagian dari konsorsium, dan pabrikan satelit Thales Alenia Space yang berada di Prancis
Bambang Nugroho mengatakan, Konstruksi saat ini berada di angka 11,5 persen antara lain pertemuan dengan Thales Alenia Space, tinjauan payload system requirement dan service and communications module equipment qualification status review (EQSR).
BAKTI juga sudah bertemu dengan SpaceX, penyedia roket yang akan meluncurkan satelit SATRIA-1 ke orbit.
Pembangunan SATRIA-1, merujuk pada jadwal proyek ini, akan berlangsung hingga 2023 mendatang, atau sekitar dua tahun lagi. Pemerintah menjadwalkan satelit ini dapat diluncurkan pada kuartal ketiga tahun 2023 dan bisa beroperasi di akhir tahun tersebut.
Struktur pembiayaan satelit terdiri dari porsi ekuitas sebesar 22 persen yaitu senilai 114 juta dolar Amerika Serikat atau setara Rp1,61 triliun dan porsi pinjaman sebesar 78 persen atau senilai 431 juta dolar AS atau Rp6,07 triliun.
Porsi pinjaman berasal dari sindikasi Bank Kredit Ekspor Prancis dan dukungan antara lain HSBC Continental Europe, Banco Santander dan The Korea Development Bank.
Adi Rahman Adiwoso selaku Direktur Utama PT Pasifik Satelit Nusantara, dalam acara yang sama menyatakan pada Agustus mendatang, mereka akan memulai pembangunan stasiun di bumi untuk mengontrol satelit.
Pada bulan April lalu, pemerintah Indonesia berhasil mendapatkan slot orbit 146 Bujur Timur yang nantinya akan digunakan oleh satelit SATRIA-1, setelah mengajukan proposal permohonan perpanjangan masa laku penggunaan filing PSN-146E kepada Radio Regulations Board (RBB), International Telecommunication Union.



