Ilustrasi, sumber foto: Istimewa
POKER ANTIK - Proses penarikan pasukan AS dari Afghanistan berlanjut secara bertahap. Amerika Serikat dan Sekutu perlahan-lahan mengurangi kehadiran pasukan mereka dari perang terpanjang yang mereka lakukan di Afghanistan.
Turki yang merupakan bagian dari sekutu AS dalam organisasi NATO juga telah didesak untuk meninggalkan Afghanistan, sesuai dengan kesepakatan yang dibuat oleh Amerika Serikat pada 2020. Hal itu disampaikan juru bicara Taliban di Doha, Qatar.
Proposal Turki untuk melindungi bandara Kabul
https://twitter.com/AlArabiya_Eng/status/1402460094391107585
Setelah Amerika Serikat dan mitranya sepakat untuk menarik pasukan militer dari Kabul pada 11 September 2021, Turki mengajukan proposal penawaran kepada pejabat militer untuk menjaga bandara Kabul, Afghanistan.
Tawaran dari Turki tersebut bertujuan untuk mengamankan dan menjalankan bandara, sehingga jalur transportasi utama dari luar Afghanistan tetap berjalan dengan aman.
"Menyusul keputusan Amerika Serikat untuk menarik diri dari Afghanistan, Turki telah membuat tawaran untuk memastikan keamanan bandara Kabul. Dalam kerangka ini, pembicaraan sedang berlangsung dengan NATO dan Amerika Serikat," kata pejabat Turki itu.
Turki telah memberikan keamanan ke Bandara Internasional Hamid Karzai di Kabul selama bertahun-tahun. Penarikan potensial pasukan Turki akan memperumit masalah karena negara-negara Barat lainnya berusaha untuk menjaga misi diplomatik mereka tetap terbuka di negara itu setelah berakhirnya misi terlama NATO.
Turki memiliki lebih dari 500 personel militer di Afghanistan yang bertugas sebagai penjaga dan pelatih bagi pasukan Afghanistan. Meski begitu, tawaran proposal Turki terkendala beberapa aspek seperti hubungan mereka yang tegang dengan AS karena Turki membeli pertahanan rudal S-400 dari Rusia.
Amerika Serikat masih mempertimbangkan proposal yang diajukan oleh Turki dan ingin membahas masalah tersebut dengan mitra militer dari negara lain yang terlibat di Afghanistan.
Taliban meminta pasukan Turki mundur, sesuai kesepakatan kesepakatan AS US
Turki dan Afghanistan telah memiliki hubungan baik selama hampir satu abad. Keduanya memiliki ikatan emosional karena kesamaan mayoritas agama yang dianut masyarakat, yaitu Islam.
Terkait keputusan penarikan pasukan AS dan mitranya dari Afghanistan, dikhawatirkan perang antara pasukan Taliban dan Afghanistan akan meningkat dan situasi keamanan di Afghanistan akan meningkat kembali.
Turki ingin menjaga keamanan bandara Kabul sehingga aktivis bantuan kemanusiaan seperti LSM, tetap dapat beroperasi di Afghanistan melalui bandara Kabul tanpa khawatir.
Meski begitu, Taliban menanggapi usulan yang diajukan oleh Turki. Taliban mengatakan pada hari Kamis bahwa mereka secara efektif menolak proposal Ankara untuk menjaga bandara Kabul tetap beroperasi setelah pasukan NATO pimpinan AS pergi.
Juru bicara Taliban Suhail Shaheen di Doha, Qatar mengatakan "Turki adalah bagian dari pasukan NATO dalam 20 tahun terakhir, jadi mereka harus mundur dari Afghanistan berdasarkan Perjanjian yang kami tandatangani dengan AS pada 29 Februari 2020."
Afghanistan memuji peran Turki di negaranya
Turki diharapkan menjadi tuan rumah pembicaraan damai antara pemerintah Afghanistan dan Taliban yang tertunda beberapa kali. Afghanistan dan Taliban pertama kali mengadakan pembicaraan damai di Doha, Qatar. Namun, pembicaraan damai terhenti.
Afghanistan dan Taliban kemudian mengadakan pembicaraan di Moskow tetapi ini juga tidak berhasil. Istanbul akan menjadi tempat berikutnya untuk pembicaraan damai antara Afghanistan dan Taliban.
Namun rencana itu ditunda pada akhir Ramadhan lalu dan kabarnya akan dilanjutkan kembali setelah Idul Fitri. Meski begitu, Taliban mengatakan mereka tidak akan menghadiri acara tersebut selama Washington belum menarik semua pasukannya dari Afghanistan.
Turki, Pakistan dan Afghanistan, yang merupakan anggota dari kesepakatan trilateral, menyesali keputusan Taliban dan mendesaknya untuk menepati janjinya untuk menghadiri pembicaraan damai lebih lanjut.
Mei lalu, Turki memilih Duta Besar barunya untuk Afghanistan dan pemerintah Afghanistan menanggapi peran negara itu. Menurut Daily Sabah, kantor kepresidenan Afghanistan mengatakan "Afghanistan berkomitmen untuk melanjutkan hubungan ini, dan menghargai upaya negara (Turki) dalam proses perdamaian," kata pernyataan resmi yang dikeluarkan.
Rencana AS dan NATO untuk meninggalkan Afghanistan telah memicu kekerasan baru di negara itu. Serangan demi serangan terus meningkat dan menimbulkan korban jiwa.
Dilansir Arab News, Minggu (6/6), sedikitnya 30 orang, sebagian besar siswi tewas dan 52 lainnya luka-luka dalam tiga ledakan yang menyasar sebuah sekolah di Kabul saat para siswa pulang dari sekolah.




